Oleh: Restina Azahra
YOGYAKARTA — Fakultas Ilmu Sosial Budaya (FISB) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Orasi Kebudayaan bertajuk "Dekolonisasi Pengetahuan pada Perguruan Tinggi: Mengapa dan Bagaimana?" pada Jumat, 12 Juni 2026 yang berlokasi di Auditorium Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII, Yogyakarta. FISB UII mengundang Hilmar Farid, Ph.D., dosen Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sebagai pembicara utama untuk memperdalam diskusi.
Kegiatan berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama mulai sejak pukul 08.00 hingga 11.15 WIB dan terbuka untuk umum yang dihadiri oleh mahasiswa, akademisi, serta masyarakat umum. Sesi kedua dilanjutkan pada pukul 12.45 hingga 16.00 WIB, sesi ini berupa workshop internal khusus untuk seluruh dosen FISB UII dengan tema "Pemetaan Langkah-Langkah Dekolonisasi Pengetahuan di FISB."
Gagasan dekolonisasi pengetahuan memiliki kedekatan dengan sejarah UII. Cikal bakal UII, yaitu Sekolah Tinggi Islam (STI), dirintis oleh tokoh-tokoh Indonesia sebelum kemerdekaan sebagai ikhtiar membangun pendidikan tinggi yang berakar pada perspektif dan kebutuhan bangsa sendiri, berbeda dengan institusi pendidikan tinggi sebelumnya yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan pemerintahan Hindia-Belanda.
Ilmu Yang Masih Terjajah
Dalam orasinya, Hilmar Farid menyampaikan bahwa kemerdekaan politik Indonesia tidak otomatis membawa kemerdekaan epistemik. Ia memperkenalkan konsep cognitive empire, yaitu bentuk dominasi yang tetap bertahan meski kolonialisme politik telah berakhir.
"Struktur yang menentukan pengetahuan mana yang valid, metode mana yang ilmiah, pertanyaan mana yang penting terus bekerja tanpa gangguan"
Menurutnya, warisan kolonial masih memengaruhi cara dunia akademik menentukan standar pengetahuan yang dianggap ilmiah dan universal. Akibatnya, banyak pengetahuan yang lahir dari pengalaman masyarakat yang pernah terkolonisasi tidak memperoleh posisi yang setara dalam produksi pengetahuan.
Untuk menjelaskan mekanisme tersebut, Hilmar menggunakan konsep epistemic line dari pemikir Afrika Selatan Sabelo Ndlovu-Gatsheni yang disandingkan dengan gagasan color line dari W.E.B. Du Bois. Jika color line membedakan manusia berdasarkan ras dan warna kulit, maka epistemic line bekerja dengan menentukan pengetahuan mana yang dianggap ilmiah, objektif, dan universal, sementara pengetahuan lain dipandang tidak memenuhi kriteria tersebut.
Hilmar menegaskan bahwa keterbelakangan akademik Indonesia bukan semata persoalan kemampuan, melainkan juga warisan inferiority complex yang ditanamkan kolonialisme. Pengetahuan lokal, menurutnya, bukan kekurangan yang harus dilengkapi dari luar, melainkan potensi yang selama ini kurang mendapat pengakuan.
Ia juga menyinggung konsep auto-aktiviteit, yaitu gagasan bahwa masyarakat memiliki kapasitas untuk bergerak dan berkembang secara mandiri. Menurutnya, kesadaran tersebut pernah hidup dalam pemikiran para intelektual Indonesia sebelum kemerdekaan, namun perlahan tersisih setelah Indonesia merdeka.
Dekolonialisasi Yang Belum Selesai
Melalui berbagai contoh yang dipaparkan, Hilmar menunjukkan bahwa dekolonisasi pengetahuan bukanlah agenda yang telah selesai, melainkan proses yang masih terus berlangsung di lingkungan akademik. Berbagai upaya yang telah di lakukan di Indonesia mencerminkan usaha untuk meninjau kembali sumber, perspektif, dan cara memahami pengetahuan yang selama ini cenderung berada di luar arus utama.
Menurutnya, dekolonisasi tidak hanya berkaitan dengan menghadirkan gagasan baru, tetapi juga mempertanyakan batas-batas yang selama ini menentukan pengetahuan mana yang dianggap ilmiah, objektif, dan universal. Karena itu, upaya dekolonisasi menuntut refleksi yang berkelanjutan terhadap cara pengetahuan diproduksi, diajarkan, dan dikembangkan di perguruan tinggi.
Meski demikian, Hilmar mengakui bahwa berbagai inisiatif yang telah muncul masih berskala terbatas dan kerap bergantung pada komitmen individu maupun kelompok tertentu. Hal tersebut menunjukkan bahwa dekolonisasi pengetahuan masih menjadi pekerjaan panjang yang belum sepenuhnya selesai.
Grafis: Indah Damayanti
