Monolog Aspal yang Membara
Di bawah terik yang memanggang ubun-ubun,
langkah kaki kami menjelma ketukan palu hakim.
Kami bukan sekadar angka di lembar statistik Pemilu.
Kami adalah keringat, debu, dan lapar yang menuntut temu.
Jalanan hari ini adalah ruang sidang yang paling jujur.
Tempat baliho pesona runtuh oleh realita yang hancur.
Kalian bicara tentang makan gratis dan koperasi di atas kertas,
sementara harga beras dan minyak melonjak tanpa batas.
Memaksa ibu-ibu memilah koin di bawah atap yang cemas.
Mengapa undang-undang dibuat tergesa seperti memburu buruan?
Pasal-pasal diketuk malam hari, memotong hak berbicara kami.
Kewenangan kalian diperluas, benteng kekuasaan ditinggikan,
sedangkan hak-hak warga dipersempit, dianggap gangguan.
Lihatlah ke luar jendela kaca mobil mewahmu, Tuan!
Rupiah sedang sekarat, pasar-pasar tradisional menjerit sunyi.
Ini bukan lagi soal politik yang jauh di menara tinggi.
Ini soal isi piring, jaminan esok hari, dan harga diri.
Jika ruang sidang kalian telah tuli oleh kepatuhan,
maka barisan di aspal ini tak akan pulang membawa diam.
Sebab, ketika keadilan tak lagi bisa ditemukan di meja birokrasi,
Ia akan selalu lahir kembali di tengah riuh aksi.
Kami tidak akan berhenti mengeja tuntutan ini:
Kembalikan hak kami, atau biarkan sejarah mencatat tirani.
Lumbung Arang, Malam Arang
Kami bayar pajak dengan keringat yang diperas,
tapi malam kami tetap padam, senyap dan keras.
Katanya negeri ini berdiri di atas gunungan arang,
lalu mengapa listrik rumah kami padam karena mesin yang pincang?
Emas hitam dikeruk dari tanah kami sendiri,
dibawa pergi kapal-kapal, melayari mimpi negeri seberang.
Sementara di sini, kita salah menakar kalori,
memaksa turbin-turbin raksasa mogok dan kehilangan benderang.
“Manajemen beban”, kata mereka di kursi kuasa,
membagi kegelapan seolah ini keadilan bagi kita.
Padahal rupiah kami sudah habis ditelan jua,
oleh sistem yang rapuh, ringkih, dan abai pada jelata.
Jangan matikan lampu kami jika kau tak bisa menerangi keadilan!
Sebab dalam gelap ini, amarah kami sedang menyusun barisan.
Grafis: Indah Damayanti

