• Home  
  • Dolar Naik, Dompet Mahasiswa yang Kena Imbasnya
- Opini

Dolar Naik, Dompet Mahasiswa yang Kena Imbasnya

kenaikan Dolar tidak hanya berpengaruh pada sektor perdagangan atau ekonomi saja, melainkan juga menyentuh kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa yang hidup di perantauan.

Oleh: Miftahul Rizka

Nilai tukar rupiah yang terus menembus level tertinggi terhadap dolar Amerika Serikat bukan sekadar angka di layar perdagangan. Bagi mahasiswa rantau yang bergantung pada kiriman bulanan orang tua, setiap pelemahan kurs adalah kabar buruk yang berujung pada penyusutan daya beli secara nyata. Persoalan ini mendesak untuk dibahas secara terbuka, karena dampaknya jauh lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa sehari-hari dibandingkan yang selama ini diakui dalam wacana publik.

Sepanjang Juni 2026, rupiah bergerak gelisah pada kisaran tujuh belas ribu delapan ratus hingga delapan belas ribu dua ratus rupiah per dolar AS, bahkan sempat menembus level di atas delapan belas ribu rupiah pada awal bulan. Berdasarkan pemberitaan Bisnis.com, rupiah ditutup melemah ke level Rp17.843 per dolar AS pada penutupan perdagangan 22 Juni 2026, dipicu oleh penguatan indeks dolar AS serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Sumber yang sama mencatat bahwa rupiah kembali melemah ke level Rp17.952 per dolar AS pada 24 Juni 2026. Sementara itu, Trading Economics melaporkan bahwa pelemahan ini terjadi meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak seratus basis poin sejak Mei 2026 sebagai upaya menahan laju depresiasi.

Pelemahan rupiah yang berlarut-larut ini tidak boleh dipahami semata sebagai gejala teknikal pasar uang yang hanya layak dibahas oleh ekonom dan analis pasar modal. Kombinasi antara penguatan dolar AS yang didorong oleh kebijakan moneter ketat bank sentral Amerika Serikat, surplus dagang Indonesia yang menyusut ke titik terkecil sejak tahun 2020, serta ancaman relokasi investasi manufaktur dari Indonesia ke negara tetangga merupakan tanda bahwa fondasi ekonomi nasional belum cukup kukuh untuk menahan gejolak eksternal.

Kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia memang patut diapresiasi sebagai langkah defensif, namun penulis berpendapat bahwa langkah tersebut bersifat reaktif dan jangka pendek, bukan solusi struktural atas ketergantungan ekonomi domestik terhadap arus modal asing dan barang impor.

Dampak pelemahan rupiah terhadap mahasiswa selama ini kurang mendapat perhatian dalam wacana publik. Pembahasan media arus utama umumnya berhenti pada angka penutupan kurs harian dan analisis pasar, tanpa menelusuri bagaimana angka tersebut menjelma menjadi kenyataan yang dialami mahasiswa rantau di asrama dan kos-kosan. Padahal, menurut penulis, justru kelompok inilah yang paling rentan karena bergantung pada kiriman uang bulanan dengan jumlah yang relatif tetap, sementara harga kebutuhan terus bergerak naik.

Ketika Dolar Naik, yang Pertama Terkena adalah Kantong Mahasiswa

Anggapan bahwa mahasiswa tidak terdampak langsung oleh fluktuasi kurs karena tidak bertransaksi dalam denominasi dolar adalah anggapan yang keliru dan perlu dikoreksi. Mekanismenya perlu dipahami secara utuh: ketika rupiah melemah terhadap dolar, harga impor bahan baku yang dibeli dalam mata uang dolar secara otomatis membutuhkan lebih banyak rupiah untuk volume yang sama.

Indonesia mengimpor sebagian besar kebutuhan bahan pangan pokoknya, termasuk gandum untuk roti dan mi instan serta kedelai untuk tahu dan tempe. Ketika biaya impor bahan baku tersebut naik, produsen meneruskan beban tersebut ke harga jual, dan pada akhirnya konsumen di tingkat eceran, termasuk mahasiswa yang berbelanja di warung tegal sekitar kos, yang menanggung selisihnya.

Perlu pula dicatat bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak yang terjadi belakangan ini memiliki faktor tersendiri, yaitu penutupan Selat Hormuz akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Meskipun demikian, kenaikan harga BBM tersebut memperparah tekanan yang sudah ditimbulkan oleh pelemahan rupiah, karena biaya transportasi dan distribusi barang ikut melonjak. Kedua faktor ini bekerja secara bersamaan dan saling memperkuat dampak buruknya terhadap daya beli masyarakat, termasuk mahasiswa.

Sementara itu, persoalan lain yang tidak kalah penting adalah biaya berlangganan perangkat lunak produktivitas, aplikasi desain, hingga platform pembelajaran daring yang lazim digunakan mahasiswa dalam mengerjakan tugas akademik. Layanan-layanan tersebut umumnya dikenakan dalam denominasi dolar, sehingga pelemahan rupiah secara langsung menaikkan biaya yang harus dikeluarkan. Meskipun Perpustakaan UII telah menyediakan akses gratis ke sejumlah platform jurnal seperti Scopus dan JSTOR, kebutuhan terhadap perangkat digital berbayar lainnya tetap menjadi beban tersendiri bagi sebagian mahasiswa.

Universitas Islam Indonesia dan Realitas Mahasiswa Rantau

Universitas Islam Indonesia dikenal sebagai kampus dengan komposisi mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga kawasan Indonesia timur. Hal ini berarti bahwa sebagian besar mahasiswa di kampus ini bergantung pada kiriman bulanan, bukan pada penghasilan tetap. Ketika harga kebutuhan dasar mengalami kenaikan akibat tekanan biaya impor dan lonjakan harga BBM, sementara jumlah kiriman dari orang tua relatif tidak berubah, maka yang terjadi sesungguhnya adalah penyusutan daya beli secara tidak kasat mata. Tidak ada pengumuman resmi yang menyatakan bahwa nilai uang saku mahasiswa telah berkurang, tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan demikian.

Fenomena tersebut umumnya memunculkan pola yang sudah familiar di kalangan mahasiswa. Penelitian Badan Pusat Statistik (2023) mengenai pola pengeluaran rumah tangga kelompok berpendapatan rendah mencatat bahwa ketika pendapatan tidak mencukupi kebutuhan, kelompok tersebut cenderung menyesuaikan pola konsumsi pangan terlebih dahulu sebelum pos pengeluaran lain. Pola serupa dapat dijumpai pada mahasiswa yang menghadapi keterbatasan uang saku, antara lain dengan mengurangi frekuensi makan, menghindari pengeluaran tidak mendesak, hingga mencari pekerjaan paruh waktu atau pekerjaan lepas sebagai upaya menutup selisih pengeluaran. Sebagian mahasiswa bahkan terpaksa berutang kepada teman atau menggunakan aplikasi pinjaman daring yang risikonya jauh lebih besar daripada manfaat yang diperoleh.

Bukan Sekadar Bertahan, melainkan Soal Bersikap

Penulis menilai bahwa persoalan ini sesungguhnya dapat dijadikan momentum bagi mahasiswa untuk membangun literasi ekonomi yang aplikatif, bukan literasi yang hanya dibahas secara teoretis di ruang kelas. Pemahaman mengenai alasan pelemahan rupiah, peran suku bunga acuan Bank Indonesia, serta keterkaitan antara kebijakan moneter global dan harga kebutuhan sehari-hari di warung dekat kos merupakan bentuk kepekaan sosial yang semestinya tumbuh di kampus yang menyandang nama Islam Indonesia. Kampus semacam ini, menurut penulis, sepatutnya mendidik mahasiswanya untuk peka terhadap keadaan umat, bukan hanya cakap dalam mengejar indeks prestasi kumulatif.

Mahasiswa Universitas Islam Indonesia, sebagai bagian dari kelompok terdidik, memiliki posisi yang strategis untuk tidak sekadar menyampaikan keluhan di media sosial mengenai kenaikan harga, tetapi juga mendorong diskusi kritis mengenai apakah kebijakan ekonomi makro selama ini telah cukup melindungi kelompok rentan, termasuk mahasiswa rantau yang menggantungkan hidup pada kiriman terbatas. Pers mahasiswa, dalam konteks ini, memiliki peran penting untuk menjembatani data dan angka ekonomi yang bersifat kering dengan realitas yang dialami mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

Pelemahan rupiah memang merupakan persoalan yang tidak dapat dikendalikan secara langsung oleh mahasiswa. Akan tetapi, penulis berpendapat bahwa cara mahasiswa merespons keadaan tersebut, apakah hanya sebatas mengeluh ataukah justru menjadikannya bahan refleksi dan kritik yang konstruktif terhadap kebijakan ekonomi nasional, sepenuhnya berada dalam kendali mahasiswa itu sendiri. Di tengah dolar yang terus mengalami penguatan, penulis berpandangan bahwa yang paling penting untuk dijaga bukan hanya nilai rupiah di dalam dompet, melainkan juga daya kritis yang ada dalam pikiran mahasiswa.


Grafis: Indah Damayanti

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

About Us

Lorem ipsum consectetur adipiscing the any adipiscing the consectetur the any ready to adipiscing adipiscing.

Email Us: infouemail@gmail.com

Contact: +5-784-8894-678

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

LPM Dialora  @2025. All Rights Reserved.