Oleh: Pingkan Riza Sefiana
Pagi itu, hujan turun sejak subuh. Rintiknya jatuh tanpa henti, memukul atap seng rumah Arga, menciptakan irama nyaring yang seolah mengejek kesunyian di dalam. Udara dingin menyusup bebas lewat celah dinding papan, membuat Arga menggigil pelan di sudut ruangan. Di hadapannya, tas sekolah yang kainnya mulai memudar dan menipis tergeletak layu.
Pandangannya tertuju pada sepasang sepatu kain yang masih basah kuyup. Semalam, gerimis berubah menjadi hujan deras saat Arga mengayuh sepeda tua, keranjang besar berisi roti anyep terikat di boncengan.
Bayangan kejadian semalam berputar menyakitkan di kepalanya. Ia tiba di warung terakhir saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Tubuhnya sudah gemetar kedinginan, dan seragam SMP-nya (yang terpaksa ia pakai karena baju biasa belum kering) basah kuyup.
“Bu, ini setoran rotinya…” suara Arga parau, mencoba tersenyum pada pemilik warung, seorang wanita tambun yang sedang asyik menghitung uang di laci.
Wanita itu mendongak, tatapannya tajam dan jijik melihat tetesan air dari tubuh Arga mengotori lantai warungnya yang baru dipel. “Heh, bocah! Kalau masuk itu lihat keadaan! Lantai saya kotor semua, tahu!” hardiknya kasar.
Arga tersentak mundur, “Maaf, Bu. Tadi di luar deras sekali.”
“Alasan! Lihat itu rotimu, bungkusnya basah semua. Siapa yang mau beli roti lembek begini? Bikin rugi saja!” Wanita itu mengambil satu bungkus roti dan melemparnya ke dada Arga. Roti itu jatuh ke lantai yang becek. “Ambil lagi ini semua! Bawa pulang! Bilang bapakmu, kalau jualan yang niat, jangan cuma setor sampah ke sini!”
Di bawah tatapan sinis beberapa pembeli lain yang menganggapnya pengganggu, Arga berjongkok. Jemarinya yang kaku karena dingin memunguti roti-roti yang berserakan di lantai, air matanya perlahan luluh bercampur dengan tetesan air hujan di wajahnya. Hinaan itu terasa lebih dingin dan menusuk daripada air hujan yang membasahi tulang-tulangnya. Kemalangan baginya bukan lagi sekadar perut yang lapar, tapi harga diri yang diinjak-injak setiap kali ia mencoba menyambung hidup.
“Kalau masih capek, istirahat saja dulu hari ini, Ga,” bisik Ibu lembut, membuyarkan lamunan Arga. Ibu meletakkan piring berisi nasi goreng pucat di meja kayu yang reot. Tatapannya sendu melihat lingkaran hitam di bawah mata putranya.
Arga menggeleng pelan, mengusir rasa perih di dadanya akibat ingatan semalam. “Hari ini ada ulangan Matematika, Bu. Arga harus masuk.”
Sifat pantang menyerah Arga tidak tumbuh dari kata-kata mutiara, melainkan dari tumpukan kekecewaan yang berkarat di hatinya. Setiap kali ia dicaci maki saat mengantar roti, setiap kali ia melihat Ayahnya batuk-batuk di depan oven tua, dan setiap kali Ibunya diam-diam menjahit kembali tas sekolahnya yang robek, di situlah tekadnya mengeras.
Mimpinya sederhana, namun begitu kuat mengakar dalam jiwanya, yaitu Ia ingin membelikan Ayahnya mesin pengaduk adonan otomatis agar Ayahnya tak perlu lagi banting tulang hingga sesak napas. Ia bermimpi melihat Ibunya tidak lagi harus menundukkan kepala saat ditagih hutang oleh penagih keliling. Mimpi untuk mengangkat harkat keluarganya dari kubang kehinaan itulah yang menjadi bahan bakarnya. Jika ia menyerah sekarang, maka cacian semalam akan menjadi akhir ceritanya. Dan Arga menolak hal itu terjadi.
“Kalau begitu, berjuanglah. Ibu tahu anak Ibu kuat,” senyum Ibu tipis, senyuman yang selalu menjadi oase di tengah gersangnya hidup Arga.
Arga mengangguk. Dengan sepatu yang masih lembap dan menimbulkan bunyi keras dan tidak nyaman di setiap langkah, ia tetap berangkat sekolah.
Bel sekolah berbunyi persis ketika Arga sesampainya di sekolah dan Arga pun memarkir sepedanya. Di dalam kelas, suasana riuh oleh obrolan tentang kisi-kisi ulangan. Arga berjalan menuju bangku paling belakang dekat jendela, tempat favoritnya. Dari sana, ia bisa melihat rintik air hujan di kaca luar. Dibukanya buku catatan yang halamannya penuh dengan coretan rumus. Matanya berat, namun ia memaksa diri untuk membaca ulang materi yang sempat ia pelajari menjelang tengah malam, setelah selesai mengeringkan roti-roti yang dilempar semalam untuk dimakan sendiri.
Di mata teman-temannya, Arga adalah sosok pendiam dan misterius. Tak sedikit yang menganggapnya acuh tak acuh atau malas berbaur. Mereka tidak tahu bahwa setiap kali bel pulang berbunyi, Arga harus berlomba dengan waktu untuk membantu sang ayah mengemas roti sebelum kegelapan malam dan cacian pembeli kembali menghadangnya.
“Anak-anak, kerjakan dengan jujur,” tegas Bu Ratna saat membagikan lembar soal.
Suasana kelas seketika hening. Arga menarik napas dalam-dalam. Beberapa nomor awal berhasil ia selesaikan. Namun, ketika sampai pada soal ketiga, tentang logaritma rumit, pikirannya mulai buntu. Kelelahan fisik dan mental dari malam sebelumnya mendadak menyergap. Rumus-rumus di kepalanya berdansa, bercampur aduk dengan bayangan wajah marah pemilik warung semalam.
“Ga… Arga…” bisikan lirih terdengar dari bangku sebelah. Rian memberi isyarat mata penuh harap. “Nomor tiga jawabannya apa?”
Arga ragu. Rian adalah teman yang sering meminjamkan catatan. Namun, mengingat mimpinya untuk menjadi orang yang bermartabat, Arga tahu kecurangan bukan jalannya. Dengan berat hati, ia menggeleng pelan. Rian mendesah kecewa.
Sore harinya, saat kelas sudah sepi, Arga dipanggil Bu Ratna ke ruang guru. Jantung Arga berdesir kencang, takut dituduh memberi sontekan.
Bu Ratna menyambutnya hangat dan menyodorkan segelas air minum. “Ibu memperhatikanmu beberapa minggu terakhir,” ucapnya lembut. “Kamu sering terlihat lelah, dan nilaimu mulai menurun. Ada masalah?”
Tatapannya yang penuh empati meruntuhkan pertahanan Arga. Secara perlahan, ia menceritakan semuanya. Bukan hanya tentang lelahnya bekerja, tapi tentang rasa hina saat dihujat pembeli, tentang sepatu lembap yang membuatnya kedinginan, dan tentang mimpi sederhananya membelikan Ayah mesin pengaduk adonan.
Bu Ratna mendengarkan tanpa menyela. Setelah Arga selesai bercerita dengan suara bergetar, Bu Ratna mengangguk pelan. “Terima kasih sudah jujur, Arga. Ibu bangga padamu. Kamu anak yang hebat. Kita akan cari jalan keluarnya bersama.”
Beberapa hari kemudian, pihak sekolah mengajukan Arga untuk menerima bantuan biaya pendidikan. Bu Ratna juga secara pribadi mengajaknya mengikuti bimbingan belajar tambahan setiap Selasa sore.
Perubahannya tidak instan. Namun bagi Arga, setiap peningkatan nilai, sekecil apa pun, adalah bukti nyata bahwa usahanya melawan lelah dan hinaan tidak sia-sia. Semangatnya mulai menular. Rian kini sering mengajaknya belajar bersama di perpustakaan. Arga tak lagi merasa berjuang sendirian.
Mendekati akhir semester, sekolah mengadakan lomba presentasi bertema “Pendidikan Mengubah Masa Depan”. Tanpa disangka, Bu Ratna menunjuk Arga.
Di hari perlombaan, berdiri di panggung aula di hadapan ratusan pasang mata, jemari Arga gemetar hebat. Namun, saat ia memandang Bu Ratna yang mengangguk dari kejauhan, ketakutannya menguap, digantikan oleh gelora tekad yang selama ini dipendamnya.
Arga tidak membicarakan teori-teori rumit. Ia bercerita tentang keheningan subuh saat ia harus bangun membantu Ayah, tentang dinginnya air hujan yang menembus seragam basahnya, dan tentang perihnya hati saat dihina sebagai penjual roti sampah. Ia bercerita betapa pendidikan baginya bukanlah sekadar nilai, tapi adalah jembatan untuk membawa Ayahnya keluar dari kepulan asap oven tua dan Ibunya dari jeratan utang. Ia bercerita tentang mimpi seorang anak miskin di bangku belakang yang menolak untuk dihancurkan oleh keadaan.
Aula yang tadinya bising mendadak hening. Beberapa guru dan siswa terlihat menyeka air mata, terenyuh mendengarkan kejujuran yang menyayat hati namun penuh harapan dari bibir Arga.
“Langkah-langkah kecil yang kita ambil setiap hari, sekecil apa pun itu, walau harus melewati jalan becek dan cacian, akan menjadi awal dari perubahan besar,” ucap Arga di penghujung presentasinya dengan suara mantap.
Tepuk tangan riuh membahana di seluruh ruangan. Meski tak meraih juara pertama, Arga dinobatkan sebagai peraih penghargaan Presentasi Paling Inspiratif.
Malamnya, Arga pulang dan menyerahkan piagam itu kepada kedua orang tuanya. Ayahnya membaca piagam tersebut dengan mata berkaca-kaca, tangan tuanya yang kasar bergetar, lalu menepuk pundak Arga dengan bangga tanpa mampu berkata-kata. Ibunya merengkuh Arga dalam pelukan hangat, air mata kebahagiaan membasahi bahu putranya.
Di luar rumah, hujan kembali turun. Namun malam itu, Arga menyambut rintiknya dengan senyuman. Ia tahu jalan di depannya masih panjang dan mungkin masih akan ada cacian yang menanti, tetapi kini ia tak lagi takut. Mimpinya sudah menyala terang, dan ia akan terus melangkah, satu langkah kecil yang bermartabat dari bangku belakang.
Grafis: Indah Damayanti
