• Home  
  • Keffiyeh Project: Ruang Sastra Palestina yang Lahir dari Proyek Tugas Akhir
- Warta

Keffiyeh Project: Ruang Sastra Palestina yang Lahir dari Proyek Tugas Akhir

Keffiyeh Project, menghadirkan Palestina melalui pendekatan yang berbeda, yakni dalam ruang sastra dengan peluncuran buku antalogi puisi “Kita Percaya pada Pagi”

Oleh: Febrina Citra & Adisty Putri Dianty Hartanto

YOGYAKARTA – Berangkat dari upaya menghadirkan Palestina melalui ruang sastra, Keffiyeh Project meluncurkan buku antologi puisi “Kita Percaya pada Pagi” di Rumah Peradaban Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir, Kotagede, Yogyakarta, Sabtu (25/7/2026). Peluncuran buku sekaligus merupakan bagian dari proyek tugas akhir Abraham Kindi, mahasiswa semester akhir Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII), yang menggagas Keffiyeh Project. 

Suasana sore yang terik tidak menyurutkan antusiasme peserta dalam mengikuti kegiatan Keffiyeh Project  yang berlangsung pukul 15.00 –17.45 WIB. Rangkaian kegiatan dilanjutkan sesi diskusi Abraham Kindi selaku inisiator Keffiyeh Project, Hadza Min Fadhli Robby selaku dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia, serta Abidah El Khalieqy selaku penulis novel Perempuan Berkalung Sorban.

Acara dilanjutkan deklamasi puisi yang menghadirkan Alief Facturrohman, Sri Rahmawati, Rizki Dianursita, dan Hadza Min Fadhli Robby. Keempatnya membacakan puisi karya masing-masing dengan penghayatan yang kuat. Menariknya, deklamasi puisi dibacakan dengan menggunakan bahasa Arab dan Turki.

Rizki Dianursita melalui puisinya yang dibawakan dengan menggunakan bahasa Arab mengangkat refleksi tentang jiwa manusia yang masih terbelenggu oleh ketakutan akan kehilangan harta dan kekuasaan, hingga melupakan keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Di sisi lain, Hadza Min Fadhli Robby dibawakan dalam bahasa Turki dan Indonesia, dengan pesan yang mengajak untuk menjaga kepedulian, harapan, dan semangat perjuangan bagi Al-Quds agar terus diwariskan kepada generasi berikutnya. 

Pada umumnya, isu Palestina disuarakan melalui aksi, kampanye, maupun bentuk advokasi lainnya. Berbeda dengan pendekatan tersebut, Keffiyeh Project memilih karya sastra sebagai medium penyampaian pesan tentang Palestina dengan pendekatan kreatif melalui puisi, gagasan, maupun berbagai kisah yang lahir dari pengalaman Palestina. Pilihan yang menarik karena karya sastra digunakan sebagai bentuk penyampaian gagasan mengenai Palestina melalui pendekatan yang tidak hanya akademik, tetapi juga emosional dan reflektif.

Farhan Abdul Majid, selaku dosen Hubungan Internasional UII sekaligus dosen pembimbing Abraham Kindi, menyampaikan bahwa karya sastra mampu menjadi ruang alternatif untuk menyampaikan nilai dan pesan kemanusiaan. Dalam sesi diskusi, ia lebih jauh menekankan pentingnya menyuarakan keadilan tidak hanya dengan ilmu dan pengetahuan, tetapi juga dengan jiwa dan rasa. 

Layaknya peluncuran buku pada umumnya, kali ini prosesi simbolis peluncuran buku dilakukan dengan hal unik. Sesuai nama kegiatan “Keffiyeh Project”, buku antologi puisi “Kita Percaya pada Pagi” diselimuti dengan syal penutup kepala yang bermotif jaring dan garis hitam-putihnya. Kain motif keffiyeh merepresentasikan identitas nasional sekaligus semangat perlawanan rakyat Palestina. Prosesi pembukaan kain keffiyeh dilakukan oleh Abraham Kindi, Hasbi Anwar, dan Dian Rizki Nursita.  

Setelah prosesi simbolis, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan buku dan diskusi bersama Abraham Kindi selaku Founder Keffiyeh Project, Abidah El Khalieqy Penulis Novel Perempuan Berkalung Sorban, Hadza Min Fadli Robby Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia. 

Diskusi diawali dengan pemaparan dari Abraham Kindi, yang mengaku melihat proyek semacam ini sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk dijalani. Ia menyukai sastra dan sengaja merancang agar hobinya tersebut bisa bersambung dengan bidang Hubungan Internasional yang ia tekuni. Baginya, buku antologi ini hanyalah bagian kecil dari sebuah karya yang akan terus berlanjut. 

Melanjutkan diskusi, Abidah El Khalieqy menyoroti hubungan sastra dengan isu kemanusiaan. Beliau mengaitkan pengalaman perempuan dengan realitas masyarakat Palestina sebagai refleksi yang dituangkan dalam karya sastra. Berdasarkan pengalamannya, dahulu beliau bergabung dengan Kelompok Diskusi Perempuan Internasional (KDPI) yang banyak berdiskusi tentang isu-isu perempuan. 

Menanggapi anggapan yang kerap muncul bahwa puisi cenderung melebih-lebihkan dan memanfaatkan penderitaan orang lain demi kepentingan karya, Abidah menegaskan bahwa syarat utama sebuah puisi adalah kejujuran. Menurutnya, hati pembaca akan mampu merasakan dan membedakan mana karya yang lahir dari ketulusan, dan mana yang sekadar dibuat-buat. 

Pemilihan Rumah Peradaban Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir sebagai lokasi peluncuran turut memberikan pengalaman tersendiri bagi peserta yang hadir. Selain mengikuti kegiatan peluncuran buku, peserta dapat mengenal ruang yang menyimpan nilai sejarah, kebudayaan, serta warisan pemikiran Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir. Banyak peserta yang mengelilingi dalam rumah tersebut sekadar membaca perjalanan tokoh pendiri UII hingga berswafoto.

Pak Hadza pun menyampaikan bahwa pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Rumah Peradaban ini diyakini sebagai tempat di mana Prof. Kahar Mudzakkir dahulu juga menyuarakan Palestina lewat pengetahuannya yang mengakar. Harapannya, kegiatan Keffiyeh Project dapat menjadi salah satu bentuk melanjutkan perjuangan beliau. 

Farhan Abdul Majid, selaku ketua pengelola lembaga Kahar Center UII, turut menyampaikan apresiasinya. Ia mengungkapkan bahwa mungkin tugas akhir ini menjawab tantangan yang pernah ia lontarkan di kelas, bahwa rasionalitas baru bisa ditemukan tidak hanya dengan menggunakan akal budi, tetapi juga jiwa dan rasa, sehingga cakrawala terkait kemanusiaan dan keislaman dapat diluaskan.

“Kami menyambut dengan baik karya ini dan semoga karya ini menjadi pembuka bagi projek kemanusiaan lainnya, dari mahasiswa hingga masyarakat dunia. Semoga lancar dan menginspirasi,” ujar Hasbi ketika menyampaikan sambutan di awal acara.

Buku antologi puisi “Kita Percaya pada Pagi” sendiri tidak hanya diisi oleh karya mahasiswa UII, melainkan turut menghimpun karya-karya dari luar kampus, menjadikan buku ini sebagai ruang kolektif bagi siapa pun yang ingin menyuarakan solidaritas terhadap Palestina lewat sastra. 

Tidak berhenti sebagai proyek akademik, Keffiyeh Project menjadi langkah awal bagi Mas Bram sebagai penyampaian pesan Palestina melalui sastra. Kedepannya akan ada rencana yang masih dirahasiakan dalam menyampaikan kepedulian dan solidaritas melalui karya.

“Ini lebih dari sebuah tugas akhir. Ini merupakan pergerakan yang kami tanamkan untuk berusaha dengan koridor kita bermuda di sastra Palestina” ujar Abraham.


Ia berharap siapapun dapat berkontribusi melalui sastra tanpa dibatasi  latar belakang maupun asal penulis. Baginya, puisi dan cerita menjadi ruang untuk terus menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan kepada dunia.


Grafis: Achmad Bintang Sulaiman

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

About Us

Lorem ipsum consectetur adipiscing the any adipiscing the consectetur the any ready to adipiscing adipiscing.

Email Us: infouemail@gmail.com

Contact: +5-784-8894-678

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

LPM Dialora  @2025. All Rights Reserved.