• Home  
  • Menghidupkan yang Lestari: “Dari Tradisi menjadi Inspirasi” dalam Festival Literasi Jogja 2026
- Mozaik

Menghidupkan yang Lestari: “Dari Tradisi menjadi Inspirasi” dalam Festival Literasi Jogja 2026

Pelestarian budaya saja tidaklah cukup, perlu menghidupkannya untuk dalam ruang-ruang keseharian agar tumbuh dan memiliki tempat di masa depan

Oleh: Restina Azahra

Yogyakarta tak pernah kekurangan cerita. Dari mitos yang diwariskan turun-temurun, sejarah panjang Keraton, hingga tradisi yang masih dijalankan masyarakat, hampir setiap sudut kota menyimpan narasinya sendiri. Namun, memiliki banyak cerita ternyata belum cukup. Tantangan berikutnya adalah membuat cerita-cerita itu terus hidup dan tetap relevan bagi generasi hari ini.

Gagasan itulah yang mengemuka dalam rangkaian Festival Literasi Jogja (FLJ) 2026. Mengusung tema Jogja Gumregah: Tradisi, Literasi, Resiliansi, festival yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari bazar buku, seminar, lokakarya, hingga peluncuran buku.

Salah satu rangkaiannya adalah talkshow Bincang Kepenulisan: Dari Tradisi Menjadi Inspirasi: Peluang dan Tantangan Kepenulisan Konten Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta yang digelar pada Jumat (10/7). 

Forum yang berlangsung interaktif tersebut menghadirkan Paniradya Pati, Tikah Kumala, dan dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Eko Triono.

Pembicaraan bergerak dari dunia kepenulisan menuju pertanyaan yang lebih besar, “bagaimana budaya tidak hanya didokumentasikan, tetapi juga dikembangkan menjadi sumber pengetahuan, inovasi, bahkan industri kreatif?”.

Salah satu contoh yang mencuri perhatian datang dari Vietnam. Dalam forum itu, Eko Triono menceritakan pengalamannya mempelajari sistem pendidikan negara tersebut setelah tertarik dengan capaian Programme for International Student Assessment (PISA). Rasa penasaran itu membawanya menelusuri buku pelajaran, kurikulum, hingga cara masyarakat Vietnam memperlakukan budayanya.

Ia menemukan hal yang lebih menarik dari sekadar pelajaran tentang sejarah atau sastra. Cerita rakyat justru menjadi bagian dari proses belajar di sekolah. Anak-anak dikenalkan pada budaya lokal sejak dini melalui kisah-kisah yang dekat dengan kehidupan mereka.

Di saat yang sama, cerita tersebut dimanfaatkan untuk mengenalkan konsep sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), sehingga budaya tidak diposisikan sebagai hafalan, melainkan sebagai jembatan untuk memahami ilmu pengetahuan.

Pengalaman serupa ditemukan di Halong Bay. Sebelum menikmati bentang alam kawasan itu, wisatawan lebih dahulu diajak mengenal legenda tentang “telur naga” yang dipercaya menjadi asal-usulnya. Cerita menjadi bagian dari perjalanan, bukan sekadar pelengkap. Pengunjung tidak hanya membawa pulang foto yang diabadikan, tetapi juga memahami makna yang melekat pada tempat yang mereka kunjungi.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa budaya dapat berkembang jauh melampaui fungsi pelestarian. Ketika dikelola dengan baik, budaya mampu menjadi fondasi pendidikan, memperkuat pengalaman wisata, hingga membuka peluang ekonomi kreatif.

Yogyakarta sebenarnya memiliki modal yang tidak kalah besar. Kekayaan sejarah, tradisi, dan peradaban yang dimiliki daerah ini sudah menjadi fondasi yang kuat. Persoalannya bukan terletak pada minimnya potensi budaya, melainkan pada belum optimalnya upaya mengolah dan menghadirkannya kembali dalam bentuk yang dekat dengan masyarakat.

“Budaya kita sebenarnya sangat kaya. Yang perlu dibangun adalah ekosistemnya, supaya budaya tidak berhenti sebagai warisan, tetapi terus melahirkan pengetahuan dan karya baru.”

ruang tersebut dapat dimulai dari dunia pendidikan. Budaya tidak harus hadir sebagai materi tambahan yang hanya dipelajari pada waktu tertentu. Cerita rakyat, nilai-nilai lokal, maupun sejarah daerah dapat menjadi media pembelajaran yang menghubungkan peserta didik dengan lingkungan tempat mereka tumbuh.

Peran itu juga dapat diambil oleh mahasiswa. Perguruan tinggi memiliki kesempatan besar untuk menerjemahkan budaya menjadi berbagai bentuk inovasi, mulai dari media pembelajaran, produk kreatif, hingga solusi atas persoalan sosial. Dengan pendekatan tersebut, budaya tidak hanya dipertahankan keberadaannya, tetapi juga terus menghasilkan nilai baru.

Meski demikian, jalan menuju ke sana tidak sepenuhnya mudah. Menurut Eko, banyak generasi muda justru lebih akrab dengan budaya populer dibandingkan identitas budaya yang lahir di daerahnya sendiri. Kondisi itu bukan berarti budaya lokal kehilangan daya tarik, melainkan belum banyak dikemas dan dikomunikasikan dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Pandangan serupa juga disampaikan Paniradya Pati dalam diskusi. Berdasarkan pengalamannya berdialog dengan wisatawan mancanegara, Yogyakarta justru dikenal sebagai daerah yang kaya akan cerita, mitos, dan sejarah. Potensi tersebut telah ada, tetapi belum seluruhnya digali menjadi narasi yang mampu menjangkau masyarakat lebih luas.

Di titik inilah kepenulisan mengambil peran. Menulis tidak lagi sekadar merekam tradisi agar tidak hilang, melainkan mengolahnya menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari, diperdebatkan, dikembangkan, bahkan menginspirasi lahirnya berbagai karya baru.

Bagi Eko, membangun budaya juga berarti membangun ekosistemnya. Kampus, komunitas, pemerintah, hingga masyarakat memiliki peran yang saling berkaitan. Artefak budaya memang penting untuk dijaga, tetapi yang tidak kalah penting adalah memastikan nilai, cara berpikir, dan cerita yang menyertainya tetap hidup dalam keseharian masyarakat.

Percakapan di Grhatama Pustaka siang itu akhirnya tidak berhenti pada pembahasan tentang teknik menulis. Diskusi tersebut justru membuka cara pandang bahwa budaya dapat menjadi titik awal lahirnya pengetahuan, inovasi, dan industri kreatif. Di tengah melimpahnya kekayaan budaya yang dimiliki Yogyakarta, pekerjaan berikutnya bukan lagi mencari cerita baru, melainkan menemukan cara-cara baru untuk menceritakan kembali cerita yang telah lama dimiliki.

Meninggalkan Gedung Grhatama Pustaka berhasil merubah pandangan bahwa budaya sebagai sesuatu yang harus dijaga agar tidak hilang sebenarnya belum cukup, melainkan budaya perlu terus diolah, ditulis, dan diberi ruang untuk tumbuh agar tetap selalu hadir dalam masa generasi yang akan datang.


Grafis: Melody Raissha Ramadhany

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

About Us

Lorem ipsum consectetur adipiscing the any adipiscing the consectetur the any ready to adipiscing adipiscing.

Email Us: infouemail@gmail.com

Contact: +5-784-8894-678

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

LPM Dialora  @2025. All Rights Reserved.