Oleh: Saskia Amelia Putri Irawan & Al Maratu Imadul Bilad
Sore itu, Sabtu (11/7/2026), suasana di parkiran Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Sosial Budaya (FPFISB) Universitas Islam Indonesia terasa berbeda dari biasanya. Mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai program studi mulai berdatangan memenuhi area venue.
Sebagian mengantre di tenant-tenant UMKM yang menawarkan aneka makanan dan minuman, sementara yang lain memilih berdiri di depan panggung, menunggu dentuman musik pertama mengudara. Tawa, obrolan hangat, aroma makanan, dan suara check sound perlahan menyatu, membangun atmosfer yang mengawali Rockataini 2026.
Rockataini 2026, acara tahunan yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), kembali digelar dengan mengusung slogan utama “Silenced Democracy! Speak Louder! Stand Stronger!” sebagai ajakan bagi generasi muda untuk tetap berani menyuarakan pendapat di tengah isu pembatasan ruang berekspresi. Selain slogan utama tersebut, Rockataini tahun ini juga mengangkat slogan “Mata Kami Dibutakan, Suara Kami Tetap Lantang” yang mempertegas semangat untuk terus menyampaikan aspirasi melalui musik.
Lebih dari sekadar menghadirkan pertunjukan musik, Rockataini tahun ini ingin menjadikan panggung sebagai ruang berekspresi sekaligus ruang refleksi atas berbagai persoalan sosial yang tengah dihadapi masyarakat. Semangat tersebut juga diwujudkan melalui kegiatan penggalangan donasi yang nantinya akan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta sebagai mitra penyaluran. Di tengah alunan musik dan ramainya pengunjung, terselip pesan bahwa solidaritas dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk.
Ketua Pelaksana Rockataini 2026, Naufal Hakim Pasaribu, mengatakan bahwa acara tahunan ini memang dirancang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk berani mengekspresikan diri sekaligus lebih peduli terhadap isu sosial.
“Visi di tahun ini, kami menjadikan Rockataini sebagai ruang bagi generasi muda atau bagi mahasiswa-mahasiswi untuk berani mengekspresikan dirinya. Kemudian, agar mereka peduli pada isu sosial yang terjadi di negara kita.”
Naufal menjelaskan bahwa slogan “Mata Kami Dibutakan, Suara Kami Tetap Lantang” lahir dari keresahan terhadap maraknya kriminalisasi aktivis dan pembatasan kebebasan berpendapat. Menurutnya, ketika ruang berekspresi semakin menghadapi tantangan, musik tetap dapat menjadi medium yang dekat dengan generasi muda untuk menyampaikan aspirasi.
Memasuki waktu malam, suasana di depan panggung semakin padat. Dentuman drum dan raungan gitar listrik mengiringi penampilan The Outcast, Terkilir, Marloon, Pleretan, Kepalan, Kingston, Bushwackers, Rage Art, hingga Himaba. Sorak-sorai penonton bersahutan dengan alunan musik, sementara lingkaran moshing mulai terbentuk di tengah keramaian. Meski dipenuhi energi yang meledak-ledak, suasana tetap terasa hangat. Para penonton saling membaur menikmati setiap lagu yang dibawakan.
Lirik dan instrumen dari setiap band tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memperkuat makna di balik tema yang diusung Rockataini tahun ini. Melalui musik, para musisi mengajak penonton merasakan bahwa kebebasan berekspresi tidak selalu harus disampaikan melalui mimbar atau aksi demonstrasi. Nada dan lirik pun dapat menjadi medium kritik sosial yang sama kuatnya.
Pandangan tersebut turut disampaikan oleh Band Marloon. Menurut mereka, musik memiliki kekuatan untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas.
“Penting sih.. mungkin malah lebih menyuarakan ke khalayak umum, lebih ngena, dan lebih ekspresif aja juga. Dan apabila dibantu dengan irama lagu mungkin lebih kena juga ke para atasan yang di sana, yang di gedung tersebut, nggak usah disebutlah. Harusnya musik jadi sarana aja sih, jangan sampai sarana paling kecilnya pun dibatasi,”
Senada dengan Marloon, keluhan atas represifnya ruang publik juga disuarakan oleh Irsyad, vokalis dari Band Kepalan. Di atas panggung, Kepalan tampil membawakan lagu-lagu bermuatan kritik tajam, termasuk meng-cover lagu “Saraf” milik band DOM 65 yang menyuarakan bahwa hak seseorang tidak boleh diambil alih oleh instansi atau pemerintahan. Bagi Irsyad, peran musisi sangat krusial di era sekarang ketika saluran ekspresi lain mulai disensor secara ketat.
“Kalau dari opini saya, sudut pandang saya, sangat berperan. Pertama, karena sekarang kalau untuk… jangankan musik, seperti karya mural sekarang sering dihapus oleh instansi, apalagi musik. Itu sangat penting. Kayak masalah kemarin, band dari Solo di-take down karena liriknya sangat menyindir pemerintah. Dari segi karya seni untuk musisi band, ini sangat penting.”
Pesan yang dibawa para musisi rupanya juga dirasakan oleh para penonton. Jeje, mahasiswi Ilmu Komunikasi UII angkatan 2025, menilai bahwa Rockataini berhasil menunjukkan cara lain dalam menyuarakan pendapat.
“Menurut aku lumayan masuk sih buat kita di zaman sekarang dengan Indonesia yang lagi riuhnya kayak gini. Dan Rockataini ini menunjukkan bahwa kita itu berdemokrasi atau menyuarakan itu bukan dalam bentuk demo aja, atau dalam bentuk yang sangat formal, tapi bisa juga dalam bentuk yang seperti ini.”
Kesan serupa juga disampaikan Ariadne, Rina, dan Ola, mahasiswi Ilmu Komunikasi UII angkatan 2024. Mereka mengapresiasi pemilihan band yang tampil malam itu karena dinilai mampu menyampaikan suara mahasiswa dan mahasiswi secara kuat. Menurut mereka, perpaduan tema, penampilan para musisi, dan atmosfer yang dibangun sepanjang acara membuat pesan tentang kebebasan berekspresi benar-benar sampai kepada penonton.
Menjelang acara berakhir, sebagian penonton masih bertahan di sekitar venue. Ada yang kembali mengantre di tenant UMKM untuk membeli makanan, ada pula yang duduk bersama teman sambil membicarakan penampilan band favorit mereka malam itu. Lampu panggung perlahan meredup, tetapi obrolan dan antusiasme pengunjung belum sepenuhnya usai.
Rockataini 2026 membuktikan bahwa musik bukan hanya dijadikan sebagai media hiburan. Di parkiran FPFISB UII malam itu, musik menjadi ruang untuk menyampaikan keresahan, membangun solidaritas, dan mengingatkan bahwa suara generasi muda tetap dapat terdengar melalui cara-cara yang kreatif. Ketika ruang berekspresi terasa semakin sempit, dentuman musik justru menjadi pengingat bahwa keberanian untuk bersuara tidak pernah benar-benar padam.
Grafis: Achmad Bintang Sulaiman
